Senin, 17 Mei 2010

Wanita Gemar Pergi Belanja, Pria Suka Membeli

Anda mungkin sering dibuat gemas oleh sikap si dia yang ogah-ogahan, tak bersemangat, bahkan menolak ketika Anda mengajaknya berbelanja (shopping). Bukannya dia tidak suka, dia pun memiliki hasrat yang sama. Namun, Anda dan dia memiliki cara pandang yang beda dalam membelanjakan uang.

Isi tas belanja
Kalau perempuan identik dengan kesenangan membeli sepatu, tas, atau pakaian, lelaki cenderung mengeluarkan uang untuk kendaraan, makan di restoran, clubbing, dan perangkat audiovisual. Memang frekuensi mereka belanja tak sesering kita yang tiap lewat mal bisa mampir dan menghabiskan nyaris satu bulan gaji. Namun, jika dikalkulasikan, sebenarnya hasilnya akan sama. Kalau isi kantong belanja Anda berpotong-potong baju (yang sering kali sama dengan koleksi yang ada di lemari), sepasang sepatu, tas, tiga warna lipstik, bahkan jepit rambut aneka warna, isi belanjaan pria tak sebanyak itu.

Tiga hal utama yang biasanya mengisi kantong belanja kaum lelaki adalah rokok, penampilan, termasuk kebutuhan olahraga (umumnya butuh peralatan mahal, seperti sepeda gunung dan menyelam) dan "mainan" (barang elektronik dan otomotif).

Jadi, kantong belanja dia memang lebih sedikit, tetapi harganya sama, bahkan lebih mahal daripada Anda. Kalau Anda dengan uang Rp 1 juta bisa dapat berbagai macam barang, dia hanya bisa mendapat satu atau dua barang.

Belakangan berbelanja produk fashion sudah tak lagi didominasi kaum perempuan. Coba saja lihat department store atau butik khusus pria. Tempat-tempat ini mulai sering dikunjungi para lelaki yang sadar untuk tampil gaya.

Cara membeli
Saat melihat lemari pendingin mulai kosong, kebanyakan perempuan akan membuat daftar belanja kemudian pergi membeli barang-barang yang kita butuhkan tadi. Bagaimana dengan para lelaki? Mereka cenderung menunggu hingga yang tersisa di kulkasnya hanya setengah botol minuman soda atau bahkan kulkas kosong sama sekali setelah itu baru pergi berbelanja.

Para lelaki juga memiliki kecenderungan membeli segala sesuatu yang terlihat baik di mata mereka. Tak heran saat mencapai kasir, trolinya akan penuh dengan barang belanjaan yang tak pernah ia rencanakan untuk dibeli.

Konsentrasi
Saat lelaki sudah mempunyai rencana untuk membeli sesuatu, ia akan fokus. Ia akan datang ke tempat yang dituju dan langsung membeli barang yang dibutuhkannya serta mengabaikan lainnya. Saat melihat barang yang disukai pun, lelaki akan melihat harga yang tertera, mengukur kemampuan dompet, lalu beli. Begitu juga dengan barang-barang lain, seperti gadget (dalam hal ini handphone). Mereka akan melihat review-nya di internet, datang ke toko, tanya sedikit, mengukur kemampuan dompet, lalu beli.

Berbeda dengan perempuan yang bersifat ekspansif. Kita membutuhkan waktu lebih lama untuk menjelajah dan melihat-lihat dulu di butik dan department store. Bahkan, kita bisa pindah ke mal lain demi mencari harga yang lebih murah. Bagi para lelaki, ini hal yang sangat melelahkan. Jadi, jangan kaget kalau si dia terlihat ogah-ogahan menemani Anda.

Kemampuan menawar
Saat berbelanja, lelaki cenderung sudah tahu apa yang akan dibeli dan fokus. Namun, ada beberapa hal yang menjadi kelemahan mereka. Salah satunya, mudah tertipu. Penyebabnya mereka sangat mudah tergiur rayuan pramuniaga (psst, apalagi kalau pramuniaganya cantik dan pandai bicara). Akibatnya, mereka tidak lagi teliti dalam memilih barang. Jadi, jangan heran mereka langsung membeli tanpa pikir-pikir lagi tanpa menawar (selain mereka juga tidak tega dan tidak bisa menawar).

Sementara perempuan, karena menganggap berbelanja adalah aktivitas yang menghibur dan menyenangkan, kita cenderung merasa nyaman dengan suasana pertokoan atau semua kegiatan belanja. Kita juga sangat menikmati kegiatan menawar, bahkan merasa bangga ketika berhasil menawar dengan harga yang rendah. Karena sering keluar masuk mal, kita biasanya menjadi tahu trik pramuniaga sehingga tidak mudah termakan rayuan dan tahu cara menghadapi mereka.

Cicilan utang dan tabungan
Apa yang menyebabkan cicilan utang perempuan membengkak? Tak lain karena kita tak bisa menahan hasrat menggesek kartu kredit di berbagai mal dan department store yang mengadakan acara potongan harga alias sale untuk pakaian dan aksesorinya. Sementara para lelaki biasanya akan membuat utang untuk mendapatkan barang kategori kelas berat, seperti barang elektronik yang harganya jutaan dan kendaraan (motor atau mobil).

Bagi sebagian lelaki usia 20-an, menabung bukan kebutuhan utama. Meski mulai meliriknya, besarnya tetap tak bisa mengalahkan biaya gaya hidup. Sementara untuk lelaki usia 30-an yang sudah cenderung hidup mapan, mereka mulai menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung dan diinvestasikan.


sumber : kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar